Batuk-Dan-Flu-Tak-Kunjung-Se

3 Alasan Utama Pasien TBC Putus Asa Lalu Stop Berobat

General 0 Comments

Salah satu penyebab munculnya kuman-kuman tuberculosis (TB atau TBC) yang resisten alias kebal obat adalah kurangnya kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan. Bahkan ada yang putus asa kemudian berhenti berobat alias drop out (DO).

“Dari 133 pasien dampingan kami, itu 27 yang DO (tidak melanjutkan pengobatan),” kata Indra Rsdianto, koordinator Paguyuban Pendamping MDR-TB (Multi Drug Resistance TB) saat ditemui usai temu media di Hotel Acacia, Jl Kramat Raya, Jakarta Pusat, Senin (11/3/2013).

Menurut Indra, ada banyak alasan yang membuat pasien TB putus asa dan menghentikan pengobatan. Dari sekian banyak alasan, ia mengidentifikasi 3 alasan paling banyak menyebabkan DO sehingga meningkatkan resistensi (kekebalan) kuman terhadap obat TB.

1. Kurang dukungan keluarga
Menjalani pengobatan selama berbulan-bulan (6 bulan untuk TB biasa dan sekitar 18 bulan untuk MDR-TB) memang tidak mudah. Sering muncul rasa jenuh, bosan dan putus asa dalam proses pengobatan sehingga rentan DO atau putus pengobatan yang berisiko memicu resistensi atau kekebalan kuman terhadap obat yang ada saat ini.

Dalam hal ini, peran keluarga sangat dibutuhkan untuk menjaga motivasi pasien untuk berjang sampai dinyatakan benar-benar sembuh. Meski merasa sudah sembuh karena sudah tidak-batuk-batuk, pengobatan tetap harus dilanjutkan sampai waktu yang ditentukan dokter karena kuman belum benar-benar mati. Kuman yang hanya tertidur itu bisa menjadi kebal saat bangun jika pengobatan tidak dituntaskan.

2. Efek samping
“Efek samping pengobatan TB, khususnya MDR-TB itu antara hidup dan mati. Ada yang sampai sampai tuli, mual muntah pusing, asam urat, ada juga yang bikin halusinasi. Ada yg sampai ingin bunuh diri karena tidak kuat berobat selama 19 bulan,” kata Indra.

Obat yang digunakan untuk MDR-TB memang berbeda dari TB biasa, karena kuman-kumannya sudah resisten atau kebal dengan obat biasa. Harus dipilihkan obat dengan kekuatan yang lebih besar, jenisnya lebih banyak dan tentu saja efek sampingnya makin beragam.pencegahan tbc

3. Ekonomi
Faktor berikutnya adalah ekonomi. Meski obat-obatan TB maupun MDR-TB bisa diperoleh secara gratis, kenyataannya pasien masih harus menanggung biaya lain seperti transportasi menuju rumah sakit untuk kontrol maupun sekedar menebus obat-obatan.

“Obat untuk MDR-TB kan nggak boleh dibawa pulang, jadi tiap hari harus ke rumah sakit. Nantinya memang harus ada obatnya di puskesmas, tetapi kadang puskesmasnya juga jauh. Padahal tiap hari harus ke puskesmas. Obat TB biasa boleh dibawa pulang, kalau MDR-TB nggak boleh. Harus di Rumah Sakit dan minumnya diawasi petugas. Kaya tahanan kota pokoknya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *